PIDEUNG KILAT

“pideung akan terus bangkit untuk belajar dan ingin memberi sesuatu kepada bangsa dan agama, demi terciptanya bangsa bermartabat dan terhormat”

Musik Seni Penangkal Militerisme

Posted by SAIFANNUR pada 11 Januari, 2008

Oleh Suhardjo Parto

ZELL Miller, Gubernur Georgia, AS, menyebut "Fisikawan Galileo (1564-1642), dan Einstein (1879-1955) yakin tentang hubungan langsung musik seni Barat-Matematika." Banyak studi ilmiah menunjukkan bahwa hubungan itu mulai ada sejak usia di bawah lima tahun, dan hubungan itu semakin erat, jika musik seni Barat secara teratur diperdengarkan kepada mereka (Sony Classical, Build Your Baby’s Brain Through the Power of Music 2000).

Jadi kelirulah, jika seorang konduktor orkes dalam informasinya tentang musik dan orkes menyebut musik jazz dapat diajarkan di sekolah, jika musik jazz-yang bukan musik seni Barat itu-berkait dengan kepastian pada piano di repertoar musik seni Barat, dan bukan improvisasi. Untuk ini kita diingatkan oleh matematikus Fourier (1815) bahwa musik seni Barat yang tunggal dan orkestral, vokal maupun instrumental, matematik, sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan. (Kline 1979).

Bagi pembangunan sumber daya manusia, hanya musik seni Barat saja yang dapat menjadi materi musik sekolah bagi pengembangan demokrasi (Barat), seperti yang terjadi di Jepang sejak tahun 1947. Meski Metode Suzuki di Jepang ada kurangnya, ini metode pendidikan modern musik seni Barat yang bertekanan pokok: 1) pengutamaan musikalitas dini yaitu sejak usia di bawah lima tahun, dan 2) cara bermusik yang betul-ini berarti bahwa bermusik itu bukan beranjak dari bernyanyi dengan not angka, tetapi dari musik instrumental bernot-balok untuk si kecil dengan kelenturan otot-otot bagi musikalitas dini ideal.

Kemodernan AS, yang peduli pada petaka tuli anak di bawah usia lima tahun, perlu disebut di sini. Contohnya, US National Campaign for Hearing Health memanfaatkan musik seni Barat guna mendeteksi petaka tuli sejak dini. Frustasi dan tawuran remaja Jepang seusai pengakuan kalah perang dalam Perang Dunia II oleh Kaisar Hirohito di USS Missouri, di Teluk Tokyo (15/8/’45), harus ditangkal dengan pendidikan musik seni Barat bermetode Metode (Dr Shinichi) Suzuki. Begitu menariknya musik seni Barat, riset para peneliti Universitas California di Irvine menemukan teori Mozart Effect, dalam upaya mencerdaskan anak di bawah lima tahun jaman modern.

Karena Otoritas Pendudukan Militer Sekutu, demokratisasi di Jepang harus berlandaskan tradisi besar kultur seni Barat. Demokrasi (Barat) tak akan sehat, jika ia tak diimbangi oleh seni, si humanitas modern. Demokrasi mendudukkan kesederajatan pria-wanita, hal yang asing di militerisme dan feodalisme Jepang; Akademi Musik khusus bagi para mahasiswi, Soai Women College of Music, dan Takarazuka Girls’ School of Dance and Drama jadi bukti niat Sekutu mendemokrasikan bangsa Jepang. Ribuan pianis dan ribuan pemain biola telah tamat dari semua perguruan tinggi musik di Jepang sebelum tahun 1980-an (Cf Ohsaki di Tokumaru 1991), dan di tahun 1980 bangsa yang pada tahun 1945 hanya para prajurit telah jadi bangsa yang teguh berpegang pada prinsip pilihannya sekaligus berwatak lembut hati karena seni Baratnya (Cf Seward, The Japanese, 1980). Karena demokrasi sejak tahun 1960-an Tokyo memiliki enam orkes simfoni-non-campursarian.

Pertikaian elite politik kita jadi pertanda bahwa mereka betul-betul asing dari penghayatan tradisi musik Barok dari Eropa, berkomposer, antara lain, Haydn, JS Bach, dan sebagainya, lebih-lebih via pergelaran orkes simfoni di negara Barat. Tradisi tepuk tangan di awal lantunan lagu di panggung, jadi pertanda awamnya penonton pada orkes simfoni di negara Barat, dan tradisi kontemplatif musikal demi humanitas pada berbagai lapisan sosial dan profesi.

Masyarakat dan sekolah

Masyarakat dan sekolah kita sedang sakit parah. Era global akan membuat lebih parahnya penyakit yang telah diidap. Militerisme Jepang saat ia runtuh membuahkan kondisi yang relatif sama dengan kita. Dengan dipapah Sekutu, bangsa Jepang dapat bangun kembali via koridor demokrasi, yang melahirkan demokrasi Barat di Jepang, demokrasi yang lain dari demokrasi kita di era Orba.

Musik tradisi Jepang, seperti umumnya musik non-Barat hanya mengenal ritme dan melodi dalam komposisinya. Edukatif, pengalaman musikal dengan musik itu akan meninggalkan bekas sebatas permukaan. Pengalaman itu ibarat orang melihat indahnya air jernih di sungai yang mengalir di bawah sinar bulan purnama.

Mengacu pada pikiran Fourier, Galileo, dan Einstein di atas, harmoni dalam struktur komposisi musik seni Barat akan menguatkan daya pikir anak di bawah lima tahun, yang komputeris, dan membangun watak warrior and artists (Seward, The Japanese 1980). Watak teguh berpegang pada prinsip (berbangsa), disertai dengan kelembutan hati karena nuansa artistik, yang mendasari daya berpikir ulang/kritis adalah jenis watak yang diperlukan di era global.

Gamelan boleh menjadi bagian pengalaman kultural atau mozaik citarasa artistik di AS, namun musik seni Barat tetap primadona di pendidikan sekolah. Masyarakat kita dengan ke-awam-an musik seni Barat mengira bahwa segala jenis musik dapat jadi sarana pendidikan. Hal itu tidak benar. Di banyak negara federatif berdemokrasi Barat, tidak dikenal suku-suku, seperti di AS, tak ada suku Florida, California, dan sebagainya. Yang ada hanya bangsa Amerika Serikat. Kesukuan itu tanda tersimpannya rasa rendah diri dan rasa lebih unggul atas suku yang lain. HAM menghendaki kesamaan derajat dalam satu bangsa. Perlu diragukan pikiran tentang perlunya berbangga diri karena ratusan etnisitas ada di Nusantara. Satu bangsa yang padu tidak mengingkari adanya beragam obyek turisme yang disangga oleh satu bangsa Indonesia yang kuat.

Jika kita menginginkan Indonesia yang kuat dan modern, minimal komunitas suku diupayakan cepat hilang dengan landasan musik seni Barat seperti yang telah terjadi di Jepang, AS, Uni Eropa, dan sebagainya. Tiga dialek bahasa Inggris Amerika tak mewakili suku, tetapi soal gaya lokal. Pendidikan orkes SD di Barat, yang mengacu ke orkes simfoni membekali para siswa sadar warisan global, dididik tahu batas kemampuan, meresapkan mozaik total artistik instrumental, terbiasa sabar menunggu giliran, terbiasa dengan cara berpikir sistemik- bukan linier, potensi kerja sama, rasa percaya diri karena muncul dalam orkes simfoni-bukan band hiruk-pikuk tanpa konduktor, belajar berdemokrasi Barat saat menikmati konser orkes simfoni (Barat).

Etnomusikologis, pendidikan tanpa musik seni Barat hanya memberi pengalaman berfikir linear, hitam putih, rentan pada kerusuhan. Dengan musik seni Barat, auditif saja dengan repertoar orkes simfoni, melahirkan landasan berpikir sistemik, multi-dimensi. Anak balita bisa membagi perhatian di tengah alunan orkes simfoni musik seni Barat. Perlu diingat, sebutan orkes simfoni khas Indonesia perlu dipertanyakan selama sistem pendidikan seni sejak usia dini hingga SLA belum solid dan masih amburadul. Sebutan ini dapat lahir dari cara hidup santai, bukan berasal dari asas pendidikan. Tension on the rope, waspada, hati-hati, tanggung jawab diri, terus maju, penuh keberanian mengakhiri tugas, dengan awal yang betul.

Mengacu pada restorasi dari militerisme ke demokrasi Barat di Jepang, sekolah bukanlah semacam kulit luar seekor bunglon. Sekolah adalah lembaga pengolah paternalisme pra-modern ke pribadi modern, yang "tahan banting", ulet, berprinsip jelas sebagai penangkal militerisme, memiliki etiket pergaulan yang jelas, demokratis berkesadaran HAM, lembut hati karena menghayati musik seni Barat.

Harmoni di komposisi musik seni Barat perlu mendasari demokrasi dwi partai, dan kekuatan politik harus terbagi dua; 1) ada di fihak pemerintah, dan 2) ada di partai oposisi yang bernurani. Sistem pendidikan harus diubah demi pengalaman artistik dan watak anti-narkoba.

(Dr FX Suhardjo Parto, ahli musik, tinggal di Yogyakarta)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.